Kamis, 07 Februari 2008

PSIKOLOGI


DI KANTOR BANYAK MASALAH,
DI RUMAH TETAP ENJOY


Oleh: Yuyus Robentien




Masalah di Kantor, Pemicu Masalah Di Rumah

Stres adalah istilah yang datang dari ilmu kedokteran dan secara harfiah diartikan sebagai tekanan atau ketegangan yang memiliki kecenderungan mengganggu kita untuk beradaptasi atau mengatasi suatu masalah (Lazarus, 2005). Kondisi di atas bisa saja kita alami di kantor, bahkan ketika sampai di rumah. Misal, pimpinan yang memberikan job di luar kapasitas, sementara rekan yang lain dapat duduk tenang tanpa job. Tekanan ketidakadilan ini jelas akan mengganggu kenyamanan psikologis.

Sesampai di rumah, apa yang terjadi? Anak-anak menyambut dengan berbagai celotehannya, terkait dengan pengalaman di sekolah atau pengalaman saat bermain dengan anak tetangga. Belum lagi, keadaan rumah yang bak kapal pecah, karena pembantu yang tidak terampil mengurus rumah. Ditambah lagi, suami menelepon bahwa ia pulang telat karena ada lemburan di kantor.

Permasalahan di kantor belum selesai. Mengapa mesti ditambah permasalahan rumah yang begitu pelik. Belum lagi, memikirkan pekerjaan kantor yang harus diselesaikan malam itu juga di rumah. Belum lagi, harus membantu anak-anak mengerjakan PR. Bahh! Serasa badan pegal semua, mata memanas, nafas sesak, dan kepala pusing tujuh keliling.

Bila diusut darimana akar permasalahan di atas? Permasalahan di kantorlah yang menjadi pemicunya. Anak-anak di rumah, tetaplah anak-anak yang berada di luar keterbatasan kemampuan dan pemahaman orang dewasa. Anak-anak tidak mungkin dituntut untuk bersikap manis ketika orangtua datang dari kantor. Bukankah, saat orangtua bekerja, ada hak-hak mereka yang sudah terkurangi? Misalnya, hak mendapat perhatian, kasih sayang, dan cinta. Adalah wajar bila orangtua datang, mereka kemudian memberondong dan ingin meminta perhatian.

Begitu juga dengan pembantu di rumah. Pembantu adalah manusia lemah dengan keterbatasan pendidikan. Jelaslah pembantu tidak paham betul konsep ”smart working”, sehingga wajar bila ada pekerjaan rumah yang harus tercecer. Yang perlu dipertanyakan justeru kondisi orangtua itu sendiri. Benarkan orangtua pulang ke rumah sudah benar-benar tanpa membawa pekerjaan dari kantor? Sudahkan para orangtua pulang ke rumah tanpa membawa permasalahan dari kantor?

Dengan demikian, hendaklah orangtua pulang dalam keadaan siap. Siap disambut anak-anak yang berceloteh. Siap disambut keadaan rumah yang berantakan. Siap disambut kebandelan si kakak yang selalu menganggu adik. Siap disambut kecengengan si adik hanya karena boneka kesayangannya jatuh di kolong tempat tidur.
Sehingga, hindarkan urusan dan permasalahan kantor yang dibawa ke rumah. Hal ini akan memicu permasalahan di rumah. Hal ini akan menyulut emosi orangtua saat menghadapi anak-anak.



Jadilah Orang Tua yang Profesional

Menjadi orangtua pun perlu profesional. Artinya, istilah profesional tidak hanya berlaku bagi karyawan/profesi tertentu. Karena menjadi orang tua juga merupakan profesi yang mulai dengan gaji yang tak terhingga.

Berikut beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menjadi orang tua professional, sepalang dari kantor.

Pertama, lupakan sesaat
Usahakan pulang setelah seharian lelah bekerja, dalam suasana rileks dan seringan mungkin. Berikut adalah beberapa gagasan pembangkit relaksasi yang membantu dan dapat dinikmati (Lazarus, 2005):
Berendam di dalam bak mandi berisi air panas atau mandi dengan air hangat
Berbaring dan tidur sebentar
Mendengarkan musik faforit.
Hiruplah minuman yang menyegarkan
Duduk sebentar di balkon, teras, kebun belakang, ruang pribadi, atau di temapt sepi
Luangkan waktu untuk diri sendiri
Pikirkan peristiwa lucu yang pernah dialami
Coba ciptakan suasana positif pada hari itu
Pertahankan suasana positif itu dengan menceritakan lebih dulu kabar baik kepada keluarga
Gagasan pembangkit relaksasi di atas, dapat dilakukan untuk melupakan urusan dan permasalahan kantor.

Kedua, matikan handphone
Pernyataan ini senada dengan pendapat Lazarus (2005). Disarankan agar begitu masuk rumah, hindari mendengarkan pesan telepon, dan langsung membantu anak-anak mengerjakan PR, mendengarkan keluhan pasangan, atau melakukan pekerjaan rumah tangga. Apalagi bila tipe pimpinan di kantor adalah orang yang otoriter. Hati-hati, bisa jadi setiap saat kita akan diteleponnya hanya untuk memperbincangkan urusan kantor. Bahkan, dia akan memaksa kita untuk datang kembali ke kantor pada hari-hari libur, saat kita harus bersantai bersama keluarga.

Saat bersama keluarga adalah hak keluarga. Jadi, tidak ada salahnya kita memilih dan memilah konsentrasi agar sama-sama professional saat di kantor ataupun di rumah. Saat telepon berdering dan memberitakan urusan kantor, saat itulah konsentrasi orangtua menjadi terbagi. Saat itu pula feeling anak-anak akan berkata bahwa mereka sedang dinomorduakan.
Maka, janganlah heran bila tiba-tiba saja anak-anak menjadi cengeng dan rewel. Tidak heran pula, tiba-tiba anak-anak menjadi agresif dan pemarah. Untuk itu, matikan handphone saat di rumah. Pastikan bahwa semua teman dekat dan famili sudah tahu nomor telepon rumah. Sehingga, bila ada berita penting, mereka bisa menghubungi via telepon rumah.

Ketiga, bersihkan diri-bersihkan hati-dan bernyanyilah
Selangkah setelah kita meninggalkan kantor, bersihkan pikiran dari segala urusan kantor. Konsentrasikan hati ke anak-anak di rumah. Bayangkanlah kelucuan dan keluguan mereka. Tersenyumlah.

Setelah sampai rumah, ada baiknya anak-anak diminta bersabar. Lalu, mandilah. Bersihkan diri dan hati dari segala kejengkelan dan kedengkian saat di kantor. Sesekali bolehlah bernyanyi gembira. Nyanyikanlah lagu kesukaan, sembari mengguyurkan air ke tubuh.

Keempat, temui anak-anak dan suami/istri dengan senyuman
Pastikan kondisi hati dan tubuh sudah bersih. Temui anak-anak dan suami dengan senyuman. Ajaklah mereka bermain dan bersuka-ria sesaat. Lalu, tanyakan tugas-tugas mereka dari sekolah.

Bimbinglah anak-anak menyelesaikan PR-nya. Bantulah hal-hal yang menyulitkan mereka. Jangan lupa antarkan tidur mereka dengan membacakannya satu cerita yang menarik. Hingga, esok anak-anak akan terbangun dengan kesan yang indah atas orangtua mereka.

Kelima, beristirahat dengan nyenyak
Sebelum beristirahat, temui suami/isteri. Berbincang santai sejenak. Tanyakan bila ada hal-hal yang perlu dibicarakan. Atau, mungkin kita yang sedang memiliki sesuatu yang harus dibicarakan. Sampaikanlah dengan ramah.

Istirahat adalah kebutuhan yang mendasar. Usik segala urusan. Lemaskan semua urat-urat yang menegang. Pejamkan mata perlahan. Jangan lupa berdoa.

Keenam, bangun pagi dengan optimisme baru
Sesaat setelah ayam jntan berkokok, bangunlah. Bukalah mata dengan optimisme baru. Bersyukurlah bila masalah kemarin telah terlewati dengan baik. Persiapkan segala sesuatunya dengan teliti, sebelum anak-anak bangun. Sebelum kita harus membantu anak-anak, mempersiapkan diri berangkat sekolah.

Komunikasikan Masalah Kantor dengan Para Kolega
Sesampai di kantor, tidaklah baik bila satu permasalahan dibiarkan berlarut-larut. Permasalahan mesti dikomunikasikan. Sampaikanlah keberatan-keberatan yang ada dengan para kolega. Pahamkanlah agar mereka mengerti keluhan kita.
Bila permasalahan yang muncul dari pimpinan yang otoriter. Sampaikanlah penolakan tugas yang dirasa menumpuk dan hanya dibebankan kepada kita. Yakinkan pada pimpinan bila pembagian tugas itu proporsional, maka hasil yang akan dicapai jelas lebih optimal dan memuaskan.

Mengambil Tindakan Pasti sebagai Solusi
Bila para kolega dan pimpinan belum juga memahami keluhan kita. Ada baiknya kita mengambil tindakan. Tindakan yang merupakan solusi. Solusi yang tentu saja akan mencerdaskan semuanya. Mencerdaskan kita, para kolega, juga pimpinan.
Misalnya, ajukanlah untuk pindah ke bagian lain yang lebih proporsional dan manusiawi. Dengan demikian, para kolega juga pimpinan akan berpkir betapa meruginya mereka bila kita sudah tidak berada di antara mereka. Sehingga, mereka akan berpikir dua atau tiga kali untuk melepaskan kita.

Pada situasi seperti ini, ada baiknya bila kita mengajukan satu komitmen. Mintalah para kolega untuk mengerti dan mau saling berbagi tugas. Mintalah pimpinan untuk lebih adil dan bijak dalam membagi tugas. Sehingga, semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada pihak yang sangat dirugikan.
00O00

Tidak ada komentar: